Kebebasan atau kemerdekaan (al-hurriyah) adalah hak asasi setiap manusia dan bangsa di dunia. Sebagai sebuah hak dasar, wajar jika semua man...
Kebebasan atau kemerdekaan (al-hurriyah) adalah hak asasi setiap manusia dan bangsa di dunia. Sebagai sebuah hak dasar, wajar jika semua manusia dan bangsa di dunia menjunjung tinggi kebebasan atau kemerdekaan. Demi meraih kebebasan atau kemerdekaan, sebuah bangsa rela mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan bahkan nyawa.
Merdeka Menurut Persepsi Umum
Secara umum, semua bangsa dan negara di dunia memiliki kesamaan persepsi tentang makna kemerdekaan (al-hurriyah). Istilah kemerdekaan tidak terlepas dari makna-makna berikut ini.
Pertama, kemerdekaan adalah lawan dari perbudakan (al-'ubuudiyah). Orang yang tidak menjadi budak milik orang lain, maka ia adalah orang yang merdeka.
Kedua, kemerdekaan adalah lawan dari kediktatoran (al-istibdaad) dan kesewenang-wenangan (at-thughyaan). Sebuah bangsa yang tunduk kepada seorang pemimpin atau sebuah pemerintahan yang berkuasa tanpa dasar pilihan dan kerelaan mereka, maka sebenarnya bangsa tersebut bukanlah bangsa merdeka.
Sebuah bangsa yang memiliki kebebasan dan keleluasaan untuk memilih pemimpin yang mereka ridhai, tanpa mendapatkan paksaan dalam bentuk sogokan materi ataupun tekanan psikis, dan setiap kebijakan yang diambil pemimpin tersebut mencerminkan keinginan bangsa tersebut; maka bangsa tersebut adalah bangsa merdeka.
Ketiga, kemerdekaan adalah lawan dari penjajahan (al-ihtilaal). Sebuah bangsa yang memiliki kebebasan dan keleluasaan secara penuh untuk mengatur kehidupannya, tanpa ada campur tangan dan pendiktean oleh kekuatan asing, maka ia adalah bangsa merdeka.
Keempat, orang yang mampu melakukan hal yang halal dan hal-hal yang menjadi haknya tanpa mendapatkan rasa takut, tekanan, atau paksaan dari orang lain adalah orang merdeka. Sebaliknya, jika sebuah kekuatan tertentu menghalanginya dari melakukan hal yang halal dan menjadi haknya, padahal ia memerlukan hal halal dan hak tersebut, maka ia bukanlah orang merdeka.
Dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia, keempat pengertian kemerdekaan di atas adalah hal yang mereka sepakati.
Merdeka Menurut Persepsi Islam
Istilah kemerdekaan dalam Islam memiliki pengertian yang lebih luas dan lebih menyeluruh, dari keempat pengertian di atas. Ada pengertian-pengertian baru yang ditambahkan oleh Islam, terhadap keempat pengertian yang telah diterima oleh umat manusia di atas.
Kemerdekaan menurut Islam memiliki pengertian sebagai berikut.
Pertama, merdeka berarti kebebasan seorang manusia dari perbudakan oleh manusia lainnya. Orang merdeka adalah lawan kata dari seorang budak. Ini adalah bentuk kemerdekaan pribadi yang paling umum dikenal oleh semua bangsa di dunia.
Kedua, merdeka berarti seorang manusia terbebas dari perbudakan oleh selain Allah. Orang yang memberikan ketaatannya secara mutlak kepada selain Allah dan tunduk sepenuhnya kepadanya, berarti adalah budak bagi sesuatu tersebut.
Ketundukan seorang manusia secara mutlak dan ketaatannya seratus persen kepada dzat selain Allah adalah sebuah 'ubuudiyah (perbudakan dan penghambaan). Baik ketundukan atau ketaatan mutlak tersebut ditujukan kepada setan jin, batu berhala, ideologi kufur, konstitusi yang menyelisihi hukum Allah, penguasa diktator, dukun, tokoh agama, pemimpin ormas, maupun lainnya.
Bahkan, ketundukan mutlak kepada kenikmatan materi juga merupakan bentuk perbudakan dan penghambaan kepada materi. Orang yang orientasi hidupnya semata-mata demi mengejar kekayaan duniawi dan kenikmatan hidup duniawi, pada dasarnya adalah seorang budak materi, bukan orang merdeka. Seorang yang mengabdikan hidupnya untuk mengejar kenikmatan hidup duniawi berarti telah menuhankan kenikmatan duniawi.
Pengertian ini antara lain ditegaskan oleh firman Allah SWT
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
"Tidakkah engkau melihat orang yang telah menuhankan hawa nafsunya…?" (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23)
Dan oleh sabda Rasulullah SAW,
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
"Celakalah budak dinar (mata uang emas), budak dirham (mata uang perak), dan pakaian mewah. Jika ia diberi bagian, niscaya ia senang. Tetapi jika ia tidak diberi bagian, maka ia marah." (HR. Bukhari)
Ketiga, orang yang tidak rela hidup dalam penindasan dan kezaliman pihak lain adalah orang yang merdeka. Sebaliknya, orang yang rela hidup dalam kehinaan, dizalimi, dan ditindas oleh pihak lain, adalah budak bagi pihak penindas tersebut.
Contohnya adalah ketika Bani Israil menetap di Mesir dan rela ditindas oleh Fir'aun, maka mereka disebut budak-budak Fir'aun.
Pengertian ini antara lain bisa kita dapatkan dalam syair Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu. Dalam peristiwa pembebasan kota Makkah bulan Ramadhan tahun 8 H, Hassan bin Tsabit menyerang dengan keras penyair kaum musyrik Quriasy, Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthalib (sepupu dan sekaligus saudara sepersusuan Nabi SAW) lewat untaian syairnya:
اَلاَ أَبْلِغْ أَبَا سُفْيَانٍ عَنِّي … مُغَلْغَلَةً فَقَدْ بَرِحَ الْخَفَاءُ
بِأَنَّ سُيُوفَنَا تَرَكَتْكَ عَبْدًا … وَعَبْدُ الدَّارِ سَادَتُهَا اْلإِمَاءُ
هَجَوْتَ مُحَمَّدًا فَأَجَبْتُ عَنْهُ … وَعِنْدَ اللهِ فِي ذَاكَ اْلجَزَاءُ
Sampaikanlah kepada Abu Sufyan pesan dariku
Sungguh, telah sirna kesamaran
Pedang-pedang kami telah menghinakanmu
Kini marga Abdud Daar dipimpin budak perempuan
Kau caci maki Nabi Muhammad dengan syairmu, maka kubalas
dan di sisi Allah semata pahala atas hal itu
Keempat, merdeka berarti tunduk, patuh, dan menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Dalam bahasa Arab, kata harrara – yuharriru – tahriiran al-walada (memerdekakan anak) memilki pengertian menyerahkan sepenuhnya kehidupan anak tersebut untuk beribadah kepada Allah semata dan mengurus masjid. Pengertian ini antara lain disebutkan dalam nadzar istri Imran (ibunda Maryam dan nenek dari Isa bin Maryam 'alaihis salam):
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang dimerdekakan. Karena itu terimalah nazar itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Ali Imran [3]: 35)
Makna "menjadi hamba yang dimerdekakan" dalam ayat di atas adalah hamba yang shalih, bertakwa, mempergunakan seluruh umurnya untuk mengabdi kepada Allah, dan mengurus Masjidil Aqsha.
Kelima, orang merdeka berarti orang yang baik, shalih, bertakwa, dan mulia akhlaknya. Dalam bahasa Arab dikatakan:
الحُرُّ مِنَ النَّاسِ أَخْيَارُهُمْ وَأَفَاضِلُهُمْ
"Manusia merdeka, maksudnya adalah manusia yang paling baik dan paling mulia."
حُرِّيَّةُ الْعَرَبِ أَشْرَافُهُمْ
"Orang-orang Arab merdeka, maksudnya adalah tokoh-tokoh bangsa Arab yang terpandang."
حُرُّ الْفَاكِهَةِ خِيَارُهَا
"Buah-buahan merdeka, maksudnya adalah buah-buahan terbaik."
حُرُّ كُلِّ أَرْضٍ وَسَطُهَا وَأَطْيَبُهُا
"Tanah merdeka, maksudnya adalah tanah yang terbaik."
حُرُّ الدَّارِ وَسَطُهَا وَخَيْرُهَا
"Rumah merdeka, maksudnya adalah rumah yang terbaik."
الحُرُّ اَلْفِعْلُ الْحَسَنُ
"Merdeka, maksudnya adalah perbuatan yang baik." (Ibnu Manzhur, Lisanul 'Arab, entri: hurrun)
Merdeka Secara Kulit dan Merdeka Secara Isi
Setelah kita memahami pengertian merdeka menurut Islam, maka kita bisa menyadari banyak hal baru terkait istilah perbudakan, penjajahan, kebebasan, dan kemerdekaan. Setidaknya, kita bisa membedakan antara inti dan kulit dari kemerdekaan.
Ketika kita bebas bekerja, mencari nafkah, dan mengumpulkan materi, namun semata-mata untuk mengejar kenikmatan hidup duniawi sebagaimana orang-orang non-muslim melakukan hal yang sama… maka sejatinya kita masih hidup dalam penjajahan. Penjajah tersebut bernama hawa nafsu dan godaan setan.
Ketika aspek ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya, dan keamanan kita masih diatur oleh ideologi kufur dan produk-produk hukum yang menyelisihi syariat Allah…maka sebenarnya kita masih hidup dalam penjajahan. Penjajah tersebut bernama hukum jahiliah.
Ketika kaum wanita kita berlomba-lomba mengejar kemewahan hidup duniawi —bukan sekedar kebutuhan pokok duniawi— di atas kendaraan bernama ajang pencarian bakat, sinetron, drama, film, musik, lagu, iklan, fotomodel, dan sejenisnya… maka sesungguhnya mereka masih terkungkung dalam penjajahan. Penjajahan tersebut bernama tabarruj jahiliyah dan ikhtilath jahiliyah.
Ketika kita masih terkungkung oleh keyakinan bahwa segala sesuatu yang diyakini, diucapkan, dan dilakukan oleh ormas kita, partai kita, jama'ah kita, madrasah kita, syaikh kita, tokoh kita, adalah kebenaran mutlak, yang tidak mungkin keliru… maka sebenarnya kita belum selamat dari penjajahan. Dan penjajah itu bernama 'ashabiyah jahiliyah (fanatisme kejahiliyahan) atau hamiyyah jahiliyyah (kebanggaan dan kesombongan jahiliyah).
Jika renungan tersebut kita bawa kepada seluruh aspek kehidupan kita lainnya, barangkali kita akan sampai kepada sebuah kesimpulan yang sangat mengejutkan: sesungguhnya inti kehidupan kita adalah perjuangan untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Selama jantung kita masih berdetak dan paru-paru kita masih mengatur pernafasan, sejatinya kita harus terus beramal untuk mencapai kemerdekaan sejati, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ () لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An'am [6]: 162-163)
Jadi, sesungguhnya perjuangan untuk mencapai kemerdekaan sejati adalah ibadah setiap detik sampai saat kematian menjemput kita. Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis : Fauzan

COMMENTS